Harga Emas Bergerak Terbatas di Tengah Ketidakpastian Konflik Iran

Harga Emas Bergerak Terbatas di Tengah Ketidakpastian Konflik Iran

Harga emas dunia bergerak melemah tipis pada perdagangan Asia, Senin (1/6/2026), seiring meningkatnya kehati-hatian investor dalam mencermati perkembangan negosiasi gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang belum menunjukkan kemajuan signifikan. Di saat yang sama, kekhawatiran terhadap inflasi yang masih tinggi turut mendorong ekspektasi kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed).

Berdasarkan data Investing.com, harga emas spot turun 0,2 persen menjadi USD4.529,62 per troy ons. Sementara itu, harga emas berjangka AS terkoreksi lebih dalam, yakni 0,7 persen menjadi USD4.559,22 per troy ons.

Meski mengalami tekanan pada awal pekan, logam mulia tersebut sebelumnya berhasil menutup perdagangan pekan lalu dengan kenaikan tipis. Sentimen positif saat itu didorong oleh harapan perpanjangan gencatan senjata sementara antara AS dan Iran yang dinilai dapat meredakan ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Namun demikian, pasar masih dibayangi ketidakpastian setelah negosiasi menuju gencatan senjata permanen antara Washington dan Teheran belum menghasilkan terobosan berarti. Laporan terbaru menunjukkan kedua pihak masih membahas kemungkinan perpanjangan gencatan senjata sementara serta pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz, namun sejumlah isu utama masih belum terselesaikan.

Selain itu, setiap kesepakatan final masih memerlukan persetujuan dari Presiden AS Donald Trump. Situasi semakin kompleks setelah Israel memperluas operasi militernya di Lebanon terhadap kelompok Hizbullah yang didukung Iran, sehingga meningkatkan risiko eskalasi konflik di kawasan.

Di sisi lain, harga minyak mentah kembali menguat setelah perkembangan terbaru di Timur Tengah memicu kekhawatiran mengenai pasokan energi global. Kenaikan harga energi berpotensi mendorong inflasi tetap tinggi dan memperumit upaya Federal Reserve dalam mengendalikan tekanan harga.

Kondisi tersebut membuat pelaku pasar mulai mengalihkan perhatian pada kemungkinan kebijakan moneter yang lebih ketat dari The Fed. Sebelumnya, sebagian investor memperkirakan bank sentral AS akan mulai menurunkan suku bunga, namun meningkatnya risiko inflasi kini membuka peluang bagi kebijakan yang lebih agresif.

Suku bunga yang lebih tinggi umumnya menjadi faktor negatif bagi emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil seperti obligasi atau instrumen keuangan lainnya. Selain itu, penguatan dolar AS juga memberikan tekanan tambahan terhadap harga emas.

Pada perdagangan Asia, indeks dolar AS tercatat naik tipis 0,2 persen. Penguatan mata uang AS membuat emas menjadi lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lainnya, sehingga berpotensi mengurangi permintaan.

Harga emas sendiri sempat mengalami penurunan tajam dalam beberapa sesi terakhir hingga menyentuh level terendah dalam dua bulan. Namun, logam mulia tersebut kemudian pulih seiring meredanya kekhawatiran pasar terhadap konflik yang lebih luas setelah munculnya pembicaraan mengenai gencatan senjata sementara.

Ke depan, pelaku pasar akan memantau pidato para pejabat Federal Reserve dan sejumlah data ekonomi penting Amerika Serikat, termasuk indikator pasar tenaga kerja, guna mencari petunjuk lebih lanjut mengenai arah suku bunga dalam beberapa bulan mendatang.

Sementara itu, logam mulia lainnya menunjukkan kinerja positif. Harga perak naik 0,3 persen menjadi USD75,53 per troy ons, sedangkan platinum menguat 1,0 persen menjadi USD1.939,95 per troy ons.