Peluang IHSG Menguat Terbuka, Cermati 6 Saham Pilihan Analis

Peluang IHSG Menguat Terbuka, Cermati 6 Saham Pilihan Analis

Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) memulai perdagangan awal pekan dengan pelemahan. Tekanan terhadap mata uang Garuda muncul di tengah penguatan dolar AS yang dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik setelah konflik antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas.

Mengutip data Bloomberg pada Senin, 13 Juli 2026, rupiah dibuka di level Rp18.091 per dolar AS. Posisi tersebut melemah 26 poin atau 0,14 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp18.065 per dolar AS.

Sementara itu, berdasarkan data Yahoo Finance pada waktu yang sama, rupiah berada di level Rp18.064 per dolar AS. Posisi tersebut masih lebih baik dibandingkan pembukaan perdagangan Jumat (10/7/2026) yang tercatat di level Rp18.085 per dolar AS.

Analis Prediksi Rupiah Bergerak Fluktuatif

Analis Pasar Uang Ibrahim Assuaibi memperkirakan pergerakan rupiah sepanjang perdagangan hari ini masih akan berfluktuasi dengan kecenderungan melemah.

Menurutnya, nilai tukar rupiah diproyeksikan bergerak dalam kisaran Rp17.870 hingga Rp18.300 per dolar AS.

Rentang pergerakan yang cukup lebar tersebut mencerminkan tingginya ketidakpastian di pasar keuangan global. Arah rupiah diperkirakan sangat bergantung pada perkembangan sentimen eksternal, terutama data ekonomi Amerika Serikat dan ekspektasi pelaku pasar terhadap kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).

Konflik AS-Iran Jadi Sentimen Utama

Selain faktor kebijakan moneter, pasar juga dibayangi meningkatnya risiko geopolitik di Timur Tengah.

Ketegangan meningkat setelah militer Amerika Serikat melancarkan serangan udara ke sejumlah target di Iran. Sebagai respons, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan penutupan jalur pelayaran strategis Selat Hormuz hingga batas waktu yang belum ditentukan.

Penutupan Selat Hormuz memicu kekhawatiran terhadap terganggunya distribusi minyak mentah global. Jalur tersebut merupakan salah satu rute perdagangan energi paling penting di dunia sehingga setiap gangguan berpotensi memengaruhi pasokan dan harga minyak internasional.

Akibat situasi tersebut, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) diperkirakan akan mengalami volatilitas tinggi. Ibrahim memperkirakan harga WTI berpotensi bergerak pada kisaran support USD62,30 per barel hingga resistance di level USD82,20 per barel.

Dengan meningkatnya ketidakpastian global, pelaku pasar diperkirakan akan terus mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah, pergerakan dolar AS, serta arah kebijakan Federal Reserve yang berpotensi menjadi penentu pergerakan rupiah dalam jangka pendek.