Sektor Semikonduktor Tertekan, Indeks Saham AS Ditutup Melemah

Sektor Semikonduktor Tertekan, Indeks Saham AS Ditutup Melemah

Bursa saham Amerika Serikat (AS) di Wall Street ditutup melemah pada perdagangan Selasa waktu setempat akibat aksi jual yang menekan saham-saham teknologi dan semikonduktor. Investor memilih bersikap hati-hati menjelang rilis laporan keuangan produsen cip memori utama, Micron, serta menantikan sejumlah data ekonomi penting Amerika Serikat.

Mengutip Xinhua, Rabu (24/6/2026), indeks Dow Jones Industrial Average turun 45,87 poin atau 0,09 persen ke level 51.666,84. Sementara itu, indeks S&P 500 merosot 107,33 poin atau 1,44 persen menjadi 7.365,46, sedangkan Nasdaq Composite anjlok 579,56 poin atau 2,21 persen ke posisi 25.587,04.

Dari 11 sektor utama dalam indeks S&P 500, enam sektor berhasil ditutup di zona hijau. Sektor barang konsumsi pokok memimpin penguatan dengan kenaikan 1,78 persen, disusul sektor kesehatan yang naik 1,37 persen.

Sebaliknya, sektor teknologi menjadi penyumbang terbesar pelemahan pasar setelah terkoreksi 3,66 persen. Sektor industri juga mengalami tekanan dengan penurunan sebesar 2,03 persen.

Tekanan paling besar terjadi pada sektor semikonduktor. Indeks Semikonduktor Philadelphia tercatat merosot hampir 8 persen, mencerminkan meningkatnya aksi jual pada saham-saham produsen cip global.

Sentimen negatif turut dipengaruhi koreksi tajam yang terjadi di pasar saham Korea Selatan. Indeks KOSPI dilaporkan turun 10 persen, dipicu anjloknya saham produsen cip memori besar seperti Samsung Electronics dan SK Hynix yang masing-masing terkoreksi lebih dari 12 persen.

Pelemahan tersebut memunculkan kekhawatiran bahwa tren investasi berbasis kecerdasan buatan (AI) yang selama ini menjadi motor penguatan saham teknologi mulai kehilangan momentum. Kondisi itu kemudian memicu aksi ambil untung di berbagai saham teknologi dan semikonduktor global.

Meski demikian, pelemahan Dow Jones relatif terbatas karena sebagian investor mulai mengalihkan dana ke sektor yang lebih defensif, seperti keuangan, utilitas, kesehatan, dan barang konsumsi pokok.

Selain laporan keuangan Micron, perhatian pasar saat ini juga tertuju pada rilis data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) Amerika Serikat untuk periode Mei yang dijadwalkan terbit pada Kamis (25/6/2026). Data tersebut menjadi indikator inflasi utama yang digunakan Federal Reserve dalam menentukan arah kebijakan suku bunga.

Pelaku pasar menilai hasil data PCE akan menjadi faktor penting dalam membentuk ekspektasi kebijakan moneter ke depan, terutama di tengah kekhawatiran bahwa inflasi yang masih tinggi dapat membuat suku bunga bertahan lebih lama atau bahkan kembali dinaikkan.

Di sisi lain, investor juga terus memantau perkembangan pembicaraan perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran. Meskipun aktivitas pengiriman energi di Selat Hormuz mulai meningkat, harga minyak dunia masih melanjutkan tren penurunan dan mendekati level sebelum ketegangan geopolitik meningkat.

Pergerakan harga energi tersebut turut menjadi perhatian pasar karena berpotensi memengaruhi prospek inflasi global serta arah kebijakan moneter bank sentral utama dunia dalam beberapa bulan mendatang.