Todotua Pasaribu selaku Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Wakil Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menegaskan bahwa akses Amerika Serikat (AS) terhadap mineral kritis Indonesia dalam kerangka kesepakatan dagang tetap mensyaratkan investasi dan proses hilirisasi di dalam negeri.
Ia menyatakan permintaan pelaku usaha Amerika untuk memperoleh akses terhadap sektor mineral Indonesia, termasuk rare earth, pada prinsipnya tidak menjadi persoalan selama mematuhi aturan nasional.
“Sepanjang itu dilakukan sesuai aturan bahwa kalau mereka mau masuk, mereka harus berinvestasi dalam processing-nya. Karena negara kita secara undang-undang tidak mengizinkan raw material keluar tanpa pengolahan. Ada proses hilirisasinya, ada investasinya, mereka boleh masuk,” ujar Todotua di Jakarta, Kamis.
Pemerintah, lanjutnya, tetap berpegang pada regulasi yang melarang ekspor bahan mentah tanpa proses pengolahan di dalam negeri. Dengan skema tersebut, kerja sama yang dibangun dipastikan bersifat setara dan saling menguntungkan.
“Itu just normal business to business saja sebenarnya,” katanya.
Todotua menambahkan pemerintah telah menetapkan target realisasi investasi tahunan dengan total nilai penanaman modal mencapai Rp13.000 triliun dalam lima tahun ke depan. Sektor prioritas yang didorong berfokus pada konsep downstream atau hilirisasi, guna menciptakan nilai tambah dan memperkuat ekosistem industri nasional.
Menurutnya, negosiasi dagang dan investasi tidak hanya dilakukan dengan AS, tetapi juga dengan Eropa, Jepang, China, Korea, serta mitra lainnya. Prinsip dasarnya tetap sama, yakni akses diberikan sepanjang ada komitmen investasi dan pengolahan di Indonesia.
“Kita siap, mereka minta akses masuk, boleh. Sepanjang mereka melakukan investasi di hilirisasi, di processing-nya kita berikan akses. It’s equal trade,” tegasnya.
Pemerintah juga telah menyiapkan roadmap hilirisasi terhadap 28 komoditas strategis yang menjadi peluang investasi bagi mitra global.
Sementara itu, Bahlil Lahadalia selaku Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menegaskan bahwa komoditas mineral kritis tetap wajib menjalani proses hilirisasi, meskipun terdapat kesepakatan dagang barang tambang strategis dengan AS.
Dalam konteks geopolitik global dan meningkatnya kebutuhan dunia terhadap mineral kritis, Indonesia kembali menegaskan posisi tawarnya. Pertemuan bilateral antara Prabowo Subianto dan Donald Trump di Washington, DC, menjadi momentum penting dalam memperkuat kemitraan kedua negara melalui kesepakatan Agreement on Reciprocal Trade (ART).
Pemerintah memastikan bahwa setiap bentuk kerja sama internasional tetap mengedepankan kepentingan nasional melalui investasi, hilirisasi, serta penciptaan nilai tambah di dalam negeri.
Dikutip dari antaranews.com
