Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka melemah pada perdagangan Jumat, 22 Mei 2026. Tekanan terhadap mata uang Garuda terjadi di tengah dinamika global dan sentimen pasar terkait laporan kesepakatan draf perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah berada di level Rp17.851 per dolar AS pada pembukaan perdagangan. Posisi tersebut melemah enam poin atau setara 0,03 persen dibanding penutupan sebelumnya di level Rp17.845 per dolar AS.
Sementara itu, data Yahoo Finance menunjukkan pergerakan berbeda. Rupiah tercatat berada di level Rp17.784 per dolar AS atau menguat tipis satu poin dibanding posisi pembukaan sebelumnya di Rp17.785 per dolar AS.
Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian menilai rupiah masih memiliki ruang penguatan yang cukup besar apabila bauran kebijakan fiskal dan moneter berjalan lebih seimbang dan konsisten.
Menurut Fakhrul, potensi penguatan rupiah dapat kembali menuju kisaran Rp16.800 hingga Rp17.000 per dolar AS apabila koordinasi antara pemerintah dan Bank Indonesia berjalan solid.
“Level rupiah saat ini menurut saya terlalu lemah dibanding kapasitas ekonomi Indonesia sebenarnya,” ujar Fakhrul dalam keterangannya yang dikutip dari Antara.
Ia menegaskan bahwa stabilisasi rupiah tidak bisa hanya dibebankan kepada Bank Indonesia semata. Oleh karena itu, diperlukan keseimbangan kebijakan antara sektor fiskal dan moneter untuk menjaga stabilitas nilai tukar di tengah tekanan global.
Fakhrul menambahkan, pasar saat ini juga mencermati konsistensi arah kebijakan pemerintah dan bank sentral. Menurutnya, koordinasi kebijakan menjadi faktor penting dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi global yang masih tinggi.
Sebelumnya, Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan atau BI-Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen sebagai langkah menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan inflasi.
Di sisi lain, Fakhrul menilai kebijakan fiskal Indonesia juga perlu menyesuaikan diri dengan kondisi global baru yang ditandai oleh inflasi struktural tinggi, fragmentasi geopolitik, mahalnya biaya energi, serta rantai pasok global yang semakin kompleks.
Ia mengingatkan pasar obligasi sangat sensitif terhadap arah kebijakan fiskal pemerintah. Jika investor mulai khawatir terhadap pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), stabilitas eksternal, dan arah subsidi, maka imbal hasil obligasi atau yield berpotensi meningkat karena premi risiko yang ikut naik.
Selain itu, struktur suku bunga domestik saat ini dinilai belum sepenuhnya sehat. Tingginya suku bunga SRBI memang efektif menjaga stabilitas rupiah dalam jangka pendek, tetapi berisiko menyedot likuiditas ke instrumen moneter dan menghambat penyaluran kredit ke sektor produktif apabila berlangsung terlalu lama.
“Kita perlu burden sharing yang lebih seimbang antara fiskal, moneter, sektor energi, dan sektor riil. Karena kalau rupiah terus menjadi penanggung terakhir dari semua tekanan ekonomi, maka volatilitas akan terus berulang,” kata Fakhrul.
