Harga Minyak Dunia Kembali Menguat, Brent Sentuh Level USD92 per Barel

Harga Minyak Dunia Kembali Menguat, Brent Sentuh Level USD92 per Barel

Harga minyak dunia menguat lebih dari 2 persen pada perdagangan Asia, Senin (1/6/2026), setelah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah menyusul kembali memanasnya konflik antara Israel dan kelompok Hizbullah di Lebanon. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi global.

Berdasarkan data Investing.com, harga minyak mentah Brent berjangka untuk pengiriman Agustus naik 2,1 persen menjadi USD92,99 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berjangka menguat dengan persentase yang sama, yakni 2,1 persen menjadi USD89,20 per barel.

Kenaikan tersebut terjadi setelah kedua kontrak minyak acuan dunia itu sebelumnya mengalami penurunan sekitar 10 persen sepanjang pekan lalu. Pelemahan harga kala itu dipicu oleh laporan mengenai pembahasan kerangka kerja gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran yang berpotensi mengurangi gangguan pelayaran di Selat Hormuz.

Namun, sentimen pasar berubah drastis selama akhir pekan. Israel dilaporkan memerintahkan pasukannya untuk bergerak lebih jauh ke wilayah Lebanon selatan sebagai bagian dari operasi militer terhadap Hizbullah yang didukung Iran.

Langkah tersebut meningkatkan kekhawatiran bahwa konflik dapat meluas ke kawasan Timur Tengah yang lebih luas dan berpotensi mengancam infrastruktur energi maupun jalur distribusi minyak global.

Selain itu, proses negosiasi menuju gencatan senjata permanen antara Amerika Serikat dan Iran juga belum menunjukkan kemajuan berarti. Sejumlah pejabat Iran mengindikasikan masih terdapat berbagai isu penting yang belum terselesaikan dalam perundingan tersebut.

Laporan yang beredar juga menyebutkan bahwa setiap kesepakatan perpanjangan gencatan senjata tetap memerlukan persetujuan dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Ketidakpastian ini membuat pelaku pasar tetap waspada terhadap risiko terganggunya aliran minyak melalui Selat Hormuz.

Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang menangani sekitar 20 persen atau seperlima dari total pengiriman minyak dunia. Setiap gangguan di kawasan tersebut berpotensi memberikan dampak signifikan terhadap pasokan energi global dan pergerakan harga minyak internasional.

Dalam beberapa pekan terakhir, pasar minyak mengalami volatilitas tinggi akibat perkembangan situasi geopolitik yang berubah dengan cepat. Harga minyak sempat terkoreksi tajam pada Jumat lalu setelah muncul laporan adanya kemajuan dalam pembahasan kesepakatan antara AS dan Iran.

Meski demikian, para analis menilai kekhawatiran terhadap pasokan minyak belum sepenuhnya mereda. Pengiriman energi melalui Selat Hormuz dilaporkan masih berada di bawah tingkat normal, sementara risiko geopolitik di kawasan Timur Tengah tetap menjadi faktor utama yang memengaruhi arah pergerakan harga minyak.

Pelaku pasar kini terus memantau perkembangan diplomasi antara AS dan Iran serta situasi keamanan di Lebanon untuk mengukur potensi dampaknya terhadap stabilitas pasokan energi global dalam beberapa waktu ke depan.