Harga minyak dunia bergerak melemah pada perdagangan Kamis, 2 Juli 2026, seiring meredanya kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan minyak mentah dari kawasan Timur Tengah. Pelaku pasar menilai prospek pasokan global semakin membaik di tengah perkembangan positif negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran serta meningkatnya produksi minyak mentah Amerika Serikat.
Mengutip Investing.com, kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat turun 0,85 persen menjadi USD68,00 per barel. Sementara itu, kontrak berjangka minyak Brent belum memulai perdagangan.
Tekanan terhadap harga minyak dipicu oleh berkurangnya kekhawatiran terhadap gangguan pasokan dari Timur Tengah. Sejumlah pejabat senior Amerika Serikat menyatakan pembicaraan dengan Iran menunjukkan perkembangan positif meskipun masih berada pada tahap awal.
Perkembangan tersebut meningkatkan optimisme pasar terhadap peluang tercapainya kesepakatan yang dapat meredakan ketegangan geopolitik di kawasan, sehingga risiko terganggunya ekspor minyak dari Teluk dinilai semakin kecil.
Selain itu, volume pengiriman minyak mentah melalui Selat Hormuz dilaporkan meningkat hingga melampaui 10 juta barel per hari. Kondisi tersebut mencerminkan arus distribusi minyak global yang kembali normal meskipun ketidakpastian geopolitik masih membayangi.
Pulihnya aktivitas pengiriman melalui Selat Hormuz dalam beberapa pekan terakhir juga didukung jalur distribusi alternatif yang membantu mempercepat pemulihan ekspor dari sejumlah negara produsen utama.
Di sisi lain, data terbaru dari Badan Informasi Energi Amerika Serikat (EIA) menunjukkan produksi minyak mentah AS pada April 2026 mencapai rekor 13,93 juta barel per hari. Peningkatan produksi tersebut memperkuat ekspektasi bahwa pasokan minyak global akan tetap melimpah dalam beberapa waktu ke depan.
Analis ANZ menilai prospek tercapainya kesepakatan jangka panjang antara Washington dan Teheran telah membantu mengurangi kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan minyak. Namun, mereka mengingatkan bahwa ketidakpastian mengenai keamanan pelayaran di Selat Hormuz masih menjadi faktor yang dapat menopang harga minyak apabila situasi kembali memanas.
Pelaku pasar kini menantikan perkembangan lanjutan negosiasi Amerika Serikat dan Iran, kondisi distribusi minyak dari kawasan Teluk, serta data terbaru mengenai persediaan dan permintaan minyak di Amerika Serikat sebagai indikator utama arah pergerakan harga minyak dunia dalam jangka pendek.
