Brent dan WTI Kembali ke Level USD100 per Barel di Tengah Ketegangan Pasar

Brent dan WTI Kembali ke Level USD100 per Barel di Tengah Ketegangan Pasar

Harga minyak dunia melonjak pada perdagangan Selasa, 12 Mei 2026, dengan dua patokan utama minyak mentah menembus level USD100 per barel. Kenaikan ini dipicu memanasnya kembali ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang memperbesar kekhawatiran pasar terhadap terganggunya pasokan energi global.

Dikutip dari Investing.com, Rabu, 13 Mei 2026, harga minyak mentah Brent berjangka untuk kontrak Juli naik 3,4 persen menjadi USD107,72 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS kontrak Juni melonjak 4,3 persen ke level USD102,29 per barel.

y=107.72y=107.72y=107.72

y=102.29y=102.29y=102.29

Sentimen pasar masih dibayangi konflik Timur Tengah yang telah berlangsung lebih dari dua bulan. Kekhawatiran meningkat setelah Presiden AS Donald Trump menolak proposal terbaru Iran terkait perdamaian dan menyebut tanggapan Teheran “sama sekali tidak dapat diterima”.

Trump bahkan menggambarkan balasan Iran sebagai “sepotong sampah” dan menilai gencatan senjata yang berlangsung saat ini berada pada titik paling rapuh.

Di sisi lain, Iran menegaskan proposal balasannya bertujuan mengakhiri perang, mencabut blokade laut AS, serta memulihkan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz. Teheran juga meminta kompensasi perang, pencabutan sanksi, dan pengakuan kedaulatan atas selat strategis tersebut.

Laporan CNN pada Senin malam menyebut Trump tengah mempertimbangkan melanjutkan operasi militer besar-besaran terhadap Iran karena negosiasi damai belum menunjukkan kepastian.

Kondisi tersebut kembali memicu kekhawatiran terhadap keamanan distribusi energi global melalui Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan bahan bakar dunia.

CEO Saudi Aramco, Amin Nasser, memperingatkan bahwa meskipun Selat Hormuz dibuka kembali dalam waktu dekat, dibutuhkan waktu berbulan-bulan agar arus pasokan minyak global kembali normal.

Sebelumnya, harga minyak sempat melemah pekan lalu setelah muncul harapan tercapainya terobosan diplomatik antara Washington dan Teheran. Namun, optimisme tersebut kini kembali memudar.

Inggris juga mengumumkan rencana pengiriman drone, jet tempur, dan kapal perang untuk mendukung misi pengamanan pelayaran di kawasan Selat Hormuz.

Selain faktor geopolitik, pasar juga menyoroti data inflasi Amerika Serikat yang menunjukkan dampak signifikan dari lonjakan harga energi.

Berdasarkan data Biro Statistik Tenaga Kerja AS, indeks harga konsumen (CPI) April 2026 naik 0,6 persen secara bulanan dan 3,8 persen secara tahunan, lebih tinggi dibandingkan ekspektasi pasar sebesar 3,7 persen.

3.8%>3.7%3.8\% > 3.7\%3.8%>3.7%

Sementara itu, inflasi inti AS yang tidak memasukkan komponen makanan dan energi naik 0,4 persen secara bulanan dan 2,8 persen secara tahunan, melampaui proyeksi ekonom.

Data tersebut memperkuat indikasi bahwa kenaikan harga minyak akibat konflik Iran mulai mendorong inflasi konsumen AS.

Indeks harga energi tercatat naik 3,8 persen secara bulanan pada April dan menyumbang lebih dari 40 persen kenaikan inflasi bulanan. Secara tahunan, indeks energi melonjak 17,9 persen, tertinggi sejak September 2022.

Adapun harga bensin meningkat 5,4 persen secara bulanan dan melonjak 28,4 persen secara tahunan, tertinggi sejak Juli 2022.

Ekonom Senior Interactive Brokers, José Torres, mengatakan tingginya harga energi dapat memperbesar tekanan inflasi dan memaksa Federal Reserve mempertahankan kebijakan suku bunga ketat lebih lama.

Menurutnya, setiap hari Selat Hormuz tetap terganggu akan meningkatkan tekanan biaya dan memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga AS.

Pasar saat ini mulai meningkatkan proyeksi kenaikan suku bunga The Fed pada September, Oktober, dan Desember 2026, sebagaimana tercermin dalam alat CME FedWatch.