Harga Emas Turun, Ini Faktor yang Perlu Diwaspadai Investor

Harga Emas Turun, Ini Faktor yang Perlu Diwaspadai Investor

Harga emas dunia diperkirakan masih berpotensi melemah pada perdagangan Rabu, 13 Mei 2026. Analis Dupoin Futures, Geraldo Kofit, menilai pergerakan XAU/USD pada timeframe H4 masih berada dalam tekanan bearish setelah gagal mempertahankan momentum kenaikan sebelumnya.

Menurut Geraldo, harga emas sebelumnya sempat menyentuh dua area support yang telah diproyeksikan pasar dan mengalami pullback atau kenaikan sementara. Namun, penguatan tersebut belum cukup kuat untuk menembus area resistance penting sehingga tekanan jual dinilai masih mendominasi pergerakan jangka pendek.

“Kondisi ini menunjukkan tekanan beli masih relatif terbatas. Harga yang gagal ditutup di atas resistance menandakan pelaku pasar masih cenderung berhati-hati dan tekanan jual masih mendominasi pergerakan dalam jangka pendek,” ujar Geraldo dalam keterangannya, Rabu.

Ia menjelaskan, pergerakan harga emas juga mulai membentuk swing high baru yang dalam analisis teknikal sering menjadi sinyal potensi penurunan lanjutan. Selama harga belum mampu melanjutkan momentum kenaikan, peluang koreksi dinilai masih terbuka.

Dalam analisis teknikal tersebut, harga emas diperkirakan berpotensi kembali melemah menuju area support terdekat di level 4.671. Jika tekanan bearish terus berlanjut, target penurunan berikutnya berada di level 4.637.

Selain itu, Geraldo menilai sinyal pelemahan semakin diperkuat dengan terbentuknya pola ABC Correction pada timeframe H4. Pola tersebut menunjukkan pasar masih berada dalam fase koreksi dan belum memberikan indikasi pembalikan arah yang kuat.

“Artinya, meskipun sempat terjadi kenaikan sementara, tren utama dalam jangka pendek masih cenderung melemah selama belum ada breakout kuat di area resistance,” katanya.

Dari sisi fundamental, tekanan terhadap harga emas turut dipengaruhi penguatan dolar Amerika Serikat. Ketika dolar AS menguat, harga emas menjadi lebih mahal bagi investor global sehingga permintaan terhadap logam mulia cenderung menurun.

Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS juga menjadi faktor tambahan yang menekan harga emas. Dalam kondisi yield obligasi meningkat, investor lebih tertarik pada instrumen yang memberikan imbal hasil dibandingkan emas yang tidak menawarkan bunga atau return tetap.

Pasar saat ini juga memperkirakan Federal Reserve akan mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama. Ekspektasi tersebut dipicu oleh data ekonomi Amerika Serikat, terutama sektor tenaga kerja dan inflasi, yang masih tergolong solid.

“Jika The Fed tetap mempertahankan suku bunga tinggi dalam waktu yang lebih panjang, maka dolar AS berpotensi tetap kuat dan memberikan tekanan terhadap pergerakan emas,” ujar Geraldo.

Di sisi lain, membaiknya sentimen pasar global turut memengaruhi minat investor terhadap aset safe haven seperti emas. Ketika pasar saham lebih stabil dan optimisme ekonomi global meningkat, permintaan terhadap emas biasanya cenderung menurun.

Secara keseluruhan, kombinasi faktor teknikal dan fundamental menunjukkan harga emas masih berada dalam fase koreksi. Selama harga belum mampu menembus area resistance penting, peluang pelemahan menuju level 4.671 hingga 4.637 dinilai masih cukup besar.