Dolar Amerika Serikat (AS) melemah pada perdagangan Jumat, 29 Mei 2026, seiring meningkatnya sentimen risiko di pasar global setelah muncul harapan tercapainya kesepakatan damai antara AS dan Iran. Meski demikian, mata uang Negeri Paman Sam masih berada di jalur penguatan bulanan yang solid berkat dukungan ekspektasi suku bunga tinggi dan kenaikan imbal hasil obligasi.
Berdasarkan data Investing.com, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama dunia turun 0,1 persen ke level 98,92.
Sementara itu, euro menguat tipis 0,1 persen menjadi USD1,1659 dan poundsterling naik 0,1 persen ke posisi USD1,3456 terhadap dolar AS.
Pasar Menanti Kepastian Kesepakatan Damai AS-Iran
Pelaku pasar global masih menunggu kepastian terkait potensi kesepakatan damai antara Washington dan Teheran setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan akan menggelar pertemuan di Ruang Situasi Gedung Putih guna mengambil keputusan final.
Trump menyebut kesepakatan tersebut mencakup komitmen Iran untuk tidak mengembangkan senjata nuklir, pembukaan kembali Selat Hormuz tanpa pungutan biaya, serta pencabutan blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan Iran.
“Kapal-kapal yang terjebak di Selat karena blokade angkatan laut kami kini dapat memulai proses pulang ke rumah,” ujar Trump melalui platform Truth Social.
Namun, sejumlah media Iran membantah sebagian isi pernyataan tersebut. Kantor Berita Fars menyebut masih terdapat perbedaan substansial dalam pembahasan dan belum ada kesepakatan mengenai program nuklir Iran maupun pembukaan Selat Hormuz tanpa biaya.
Laporan media AS juga menyebut pertemuan yang berlangsung selama dua jam di Gedung Putih berakhir tanpa keputusan final, sehingga ketidakpastian masih membayangi pasar.
Dolar AS Tetap Menguat Secara Bulanan
Meski terkoreksi pada akhir pekan, indeks dolar AS diperkirakan tetap mencatat kenaikan bulanan sekitar 0,9 persen sepanjang Mei 2026.
Penguatan dolar selama bulan ini didorong oleh lonjakan harga minyak akibat konflik Timur Tengah yang memicu tekanan inflasi global. Kondisi tersebut mendorong pasar meningkatkan ekspektasi terhadap kemungkinan suku bunga tinggi yang bertahan lebih lama, terutama dari Federal Reserve (The Fed).
Ahli strategi valuta asing dan suku bunga global Macquarie, Thierry Wizman, mengatakan negara-negara pengimpor energi seperti kawasan Eropa, Inggris, dan Jepang berpotensi memperoleh manfaat jika harga minyak turun akibat tercapainya kesepakatan damai dan normalisasi aktivitas di Selat Hormuz.
Namun, menurutnya, apabila harga minyak tetap tinggi dan ketegangan geopolitik berlanjut, dolar AS berpeluang mempertahankan penguatannya karena Federal Reserve masih memiliki ruang untuk mempertahankan kebijakan moneter yang ketat.
“Kenaikan suku bunga dan tingginya imbal hasil obligasi masih menjadi faktor utama yang menopang dolar AS,” ujar Wizman.
Jepang Gelontorkan USD73 Miliar untuk Stabilkan Yen
Di pasar Asia, yen Jepang bergerak relatif stabil terhadap dolar AS dengan pasangan USD/JPY berada di level 159,25.
Data Kementerian Keuangan Jepang menunjukkan pemerintah telah menggelontorkan dana sebesar 11,7 triliun yen atau sekitar USD73,46 miliar sepanjang bulan lalu untuk melakukan intervensi pasar valuta asing guna memperkuat yen.
Meski demikian, efektivitas intervensi tersebut dinilai masih terbatas karena yen kembali mendekati level psikologis 160 per dolar AS yang sebelumnya memicu langkah intervensi pemerintah Jepang.
Di sisi lain, inflasi inti Tokyo pada Mei 2026 tercatat melambat menjadi 1,3 persen secara tahunan, masih berada di bawah target dua persen Bank Sentral Jepang selama empat bulan berturut-turut.
Perlambatan inflasi tersebut memperkuat ekspektasi bahwa Bank Sentral Jepang akan melanjutkan normalisasi kebijakan moneternya secara hati-hati, sehingga dukungan terhadap penguatan yen masih terbatas.
