Dolar AS Tertekan Seiring Meningkatnya Optimisme Perdamaian AS-Iran

Dolar AS Tertekan Seiring Meningkatnya Optimisme Perdamaian AS-Iran

Dolar Amerika Serikat (AS) kembali melemah pada perdagangan Senin (15/6/2026) waktu setempat setelah Washington dan Teheran mengumumkan tercapainya kesepakatan perdamaian sementara. Perkembangan tersebut mengurangi permintaan terhadap aset safe haven dan mendorong investor beralih ke aset berisiko.

Mengutip Xinhua, Selasa (16/6/2026), indeks dolar AS yang mengukur kinerja mata uang Negeri Paman Sam terhadap enam mata uang utama dunia turun 0,12 persen menjadi 99,631.

Pelemahan dolar terjadi seiring meningkatnya optimisme pasar terhadap meredanya konflik yang telah berlangsung lebih dari tiga bulan dan sempat memicu kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi global.

Pada penutupan perdagangan di New York, euro menguat menjadi USD1,1595 dari posisi USD1,1575 pada sesi sebelumnya. Sementara itu, poundsterling Inggris naik tipis menjadi USD1,3419 dari USD1,3416.

Di pasar Asia, dolar AS diperdagangkan pada level 160,31 yen Jepang, sedikit lebih tinggi dibandingkan posisi sebelumnya di 160,24 yen. Namun, terhadap franc Swiss, dolar melemah menjadi 0,794 dari 0,7968 franc Swiss.

Dolar AS juga menguat tipis terhadap dolar Kanada menjadi 1,3987 dolar Kanada dari sebelumnya 1,398 dolar Kanada. Sebaliknya, mata uang AS melemah terhadap krona Swedia menjadi 9,3913 dari 9,4215 krona Swedia.

Kesepakatan Damai AS-Iran Dorong Optimisme Pasar

Kesepakatan damai sementara antara AS dan Iran menjadi sentimen utama yang memengaruhi pergerakan pasar global. Kedua negara dikabarkan telah mencapai kesepakatan awal untuk mengakhiri konflik yang berlangsung selama lebih dari tiga bulan.

Presiden AS Donald Trump menyatakan kesepakatan tersebut telah rampung dan pemerintah AS telah memberikan persetujuan penuh untuk membuka kembali Selat Hormuz tanpa biaya tol. Selain itu, Washington juga akan mencabut blokade angkatan laut terhadap pelabuhan dan wilayah pesisir Iran.

Pemerintah Pakistan yang berperan sebagai mediator utama dalam perundingan mengungkapkan nota kesepahaman (MoU) akan ditandatangani di Swiss pada Jumat mendatang.

Perdana Menteri Shehbaz Sharif menyebut kedua negara telah menyepakati penghentian operasi militer secara permanen di seluruh lini konflik, termasuk di Lebanon.

Meski demikian, pasar masih mencermati sejumlah risiko setelah serangan yang dilakukan Israel terhadap kelompok Hizbullah di Lebanon pada akhir pekan. Peristiwa tersebut sempat memicu ketegangan baru dan mendapat kritik dari Presiden Trump terhadap Perdana Menteri Israel.

Negosiasi Lanjutan Bahas Program Nuklir

Selain pembukaan kembali Selat Hormuz dan pencabutan blokade, rincian lengkap kesepakatan belum diumumkan secara resmi. Media pemerintah Iran melaporkan bahwa salah satu poin dalam kesepakatan tersebut mencakup komitmen AS untuk mencabut seluruh sanksi terhadap Iran.

Kedua negara juga sepakat melanjutkan perundingan selama 60 hari setelah penandatanganan MoU guna membahas isu-isu yang masih menjadi kendala, termasuk program nuklir Iran dan mekanisme pencabutan sanksi.

Saat melakukan kunjungan ke Prancis, Trump menyatakan Iran telah menyetujui untuk tidak memiliki senjata nuklir. Sementara laporan Reuters menyebut Iran juga bersedia menghentikan pengayaan uranium lebih lanjut serta tidak memperluas fasilitas nuklirnya.

Kesepakatan tersebut disambut positif oleh pasar keuangan global karena dinilai dapat mengurangi ketidakpastian geopolitik, menekan harga energi, dan memperbaiki prospek pertumbuhan ekonomi dunia.