Indeks saham berjangka Amerika Serikat (AS) melemah pada perdagangan Minggu malam (19/4/2026), setelah sebelumnya mencatatkan kinerja kuat sepanjang pekan di Wall Street. Pelemahan ini dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik antara AS dan Iran yang mengguncang sentimen risiko global.
Mengutip data dari Investing.com, kontrak berjangka S&P 500 turun 0,8 persen ke level 7.105,25 poin. Sementara kontrak berjangka Nasdaq 100 melemah 0,6 persen ke posisi 26.655,75 poin, dan kontrak berjangka Dow Jones turun 1 persen menjadi 49.168,0 poin.
Ketegangan AS-Iran Picu Kekhawatiran Pasar
Sentimen pasar berubah menjadi lebih waspada setelah Iran menyatakan tidak akan mengikuti putaran kedua negosiasi dengan Amerika Serikat, yang sebelumnya diharapkan berlangsung sebelum berakhirnya gencatan senjata sementara.
Ketegangan semakin meningkat setelah Presiden AS Donald Trump mengungkapkan bahwa militer AS telah menembaki dan menyita kapal kargo berbendera Iran di Teluk Oman.
Trump juga memperingatkan kemungkinan serangan terhadap infrastruktur vital Iran jika kesepakatan tidak tercapai. Selain itu, penutupan kembali Selat Hormuz memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi global.
Harga Minyak Naik, Risiko Inflasi Meningkat
Kondisi tersebut mendorong lonjakan harga minyak mentah dalam perdagangan Asia. Kenaikan harga ini mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap potensi terganggunya pasokan global, sekaligus meningkatkan risiko tekanan inflasi.
Sebelumnya, harga minyak sempat stabil setelah adanya kesepakatan gencatan senjata antara Iran dan Lebanon serta pembukaan kembali jalur distribusi energi, yang sempat meredakan ketegangan dan mendukung penguatan pasar saham global.
Wall Street Catat Kinerja Positif Pekan Lalu
Meskipun saat ini tertekan, pasar saham AS baru saja mencatatkan kinerja positif sepanjang pekan lalu. Indeks S&P 500 dan Nasdaq Composite bahkan berhasil mencapai level tertinggi sepanjang masa.
Secara mingguan, Nasdaq mencatatkan kenaikan sekitar 6,8 persen, S&P 500 naik sekitar 4,5 persen, dan Dow Jones menguat lebih dari 3 persen. Kinerja ini menjadi salah satu yang terbaik dalam beberapa bulan terakhir.
Namun ke depan, investor diperkirakan akan lebih berhati-hati dan mencermati perkembangan geopolitik yang berpotensi memengaruhi arah pasar dalam jangka pendek, termasuk dampaknya terhadap inflasi dan kebijakan suku bunga Federal Reserve.
