Harga minyak dunia mencatat kenaikan tipis pada perdagangan Selasa (7/7/2026). Kekhawatiran terhadap keamanan di kawasan Selat Hormuz kembali menjadi perhatian pelaku pasar dan mampu menahan tekanan akibat ekspektasi meningkatnya pasokan minyak mentah global.
Berdasarkan data Investing, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak berjangka naik 0,39 persen menjadi US$68,82 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah Brent berjangka menguat 0,38 persen ke level US$72,26 per barel.
Risiko Geopolitik Masih Membayangi Pasar
Sentimen kenaikan harga dipicu oleh laporan insiden terhadap sebuah kapal tanker yang melintas di dekat Selat Hormuz, lepas pantai Oman. Kapal tersebut dilaporkan terkena proyektil yang memicu kebakaran, meskipun tidak menimbulkan korban jiwa.
Insiden tersebut menunjukkan bahwa risiko keamanan di jalur pelayaran strategis dunia itu masih belum sepenuhnya mereda, meski aktivitas pelayaran mulai pulih setelah tercapainya gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran.
Selat Hormuz saat ini telah kembali dibuka untuk lalu lintas komersial, termasuk bagi kapal-kapal yang memiliki keterkaitan dengan Jepang. Namun, volume pengiriman masih berada di bawah tingkat sebelum konflik terjadi.
Pelaku pasar terus mencermati apakah gangguan keamanan yang bersifat terisolasi dapat memperlambat normalisasi ekspor minyak dari kawasan Teluk dan mempertahankan premi risiko geopolitik pada harga minyak.
Pasokan Minyak Global Diperkirakan Meningkat
Di sisi lain, prospek pasar minyak masih dibayangi oleh meningkatnya pasokan dari negara-negara produsen utama.
Saudi Aramco memangkas harga jual resmi (Official Selling Price/OSP) minyak mentah Arab Light untuk pengiriman ke Asia pada Agustus menjadi berada di bawah patokan regional. Langkah tersebut menjadi yang pertama sejak 2020 dan mencerminkan semakin ketatnya persaingan merebut pangsa pasar di tengah pulihnya ekspor minyak dari kawasan Teluk.
Keputusan tersebut menyusul langkah OPEC+ yang telah menyepakati peningkatan target produksi pada Agustus. Kebijakan itu memperkuat ekspektasi bahwa pasokan minyak mentah global akan bertambah dalam beberapa bulan mendatang.
Meski demikian, analis ANZ menilai pasar produk olahan minyak masih relatif ketat. Margin kilang yang tetap tinggi serta persediaan bahan bakar yang terbatas membantu menopang harga minyak sehingga tidak mengalami penurunan lebih dalam, meskipun pasokan minyak mentah meningkat.
ANZ juga memperkirakan pulihnya ekspor dan meningkatnya produksi minyak di kawasan Teluk akan membuat pasar minyak mentah menjadi lebih longgar dalam beberapa bulan ke depan.
Untuk selanjutnya, pelaku pasar menantikan laporan prospek energi jangka pendek Amerika Serikat yang akan memuat proyeksi terbaru mengenai produksi dan permintaan minyak. Investor juga terus memantau perkembangan situasi keamanan di Selat Hormuz serta realisasi tambahan pasokan minyak dari OPEC+ ke pasar global.
