Setelah Reli Tiga Hari, Harga Minyak Dunia Mulai Tergelincir

Setelah Reli Tiga Hari, Harga Minyak Dunia Mulai Tergelincir

Harga minyak dunia turun tipis dalam perdagangan Asia pada Kamis, 3 September 2026, setelah menguat selama tiga sesi berturut-turut. Pelemahan terjadi setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyampaikan bahwa kampanye militer terbaru terhadap Iran tidak akan berlangsung lama.

Pasar juga merespons indikasi meningkatnya kembali arus energi yang melintasi Selat Hormuz, salah satu jalur vital perdagangan minyak dunia.

Mengutip Investing.com, harga minyak mentah Brent berjangka untuk pengiriman November turun 0,4 persen menjadi USD95,25 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melemah 0,2 persen menjadi USD90,80 per barel.

Kedua kontrak tersebut sebelumnya menguat hampir satu persen pada perdagangan Rabu dan mencapai level tertinggi dalam lima minggu.

Kenaikan harga minyak dalam beberapa sesi terakhir dipicu kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi dari Timur Tengah akibat meningkatnya konfrontasi militer antara AS dan Iran.

Pasukan AS dilaporkan menyerang wilayah pesisir selatan Iran, sementara Teheran merespons dengan menyerang sejumlah posisi AS di kawasan tersebut. Bentrokan itu menjadi salah satu eskalasi militer paling intens antara kedua negara sejak Juli.

Namun, pernyataan Trump pada Rabu yang menyebut kampanye militer terbaru tidak akan berlangsung lama membantu meredakan kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan minyak dalam waktu dekat.

Trump juga menyampaikan bahwa AS telah menargetkan radar Iran, sistem rudal, serta kemampuan yang berkaitan dengan pemasangan ranjau di sekitar Selat Hormuz.

Arus Minyak di Selat Hormuz Mulai Meningkat

Selat Hormuz masih menjadi perhatian utama pelaku pasar minyak global. Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan sekitar 17 juta barel minyak mentah melintasi jalur perairan tersebut pada Senin.

Volume tersebut menjadi yang tertinggi sejak konflik menyebabkan arus minyak melalui Selat Hormuz turun secara signifikan.

Meski arus energi mulai meningkat, lalu lintas kapal di Selat Hormuz masih berfluktuasi. Data awal Kpler menunjukkan hanya empat kapal komoditas melintasi selat tersebut pada Selasa, jauh di bawah rata-rata 10 hari yang mencapai sekitar 13 kapal.

Sentimen pasar juga mendapat dukungan dari data persediaan minyak mentah AS. Stok minyak mentah komersial AS dilaporkan turun 4,5 juta barel pada pekan lalu.

Penurunan tersebut menjadi yang pertama dalam lima minggu dan berlawanan dengan perkiraan analis yang sebelumnya memperkirakan kenaikan tipis.

Sementara itu, stok bensin turun 1,2 juta barel. Sebaliknya, persediaan produk distilat, termasuk diesel dan minyak pemanas, meningkat sekitar 800 ribu barel.

Pasar Nantikan Keputusan OPEC+

Perhatian pelaku pasar selanjutnya tertuju pada pertemuan Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak dan sekutunya atau OPEC+. Kelompok tersebut diperkirakan mempertahankan kebijakan produksi minyak untuk Oktober tanpa perubahan.

OPEC+ sebelumnya telah menyelesaikan pengurangan produksi sebesar 1,65 juta barel per hari sesuai jadwal. Kelompok produsen minyak itu juga menaikkan kuota produksi September sebesar 188 ribu barel per hari.