Harga emas diperkirakan masih berpeluang melanjutkan penguatan pada perdagangan Senin, 29 Juni 2026. Analisis terbaru dari Dupoin Futures menunjukkan tekanan jual yang mendominasi dalam beberapa waktu terakhir mulai mereda, sehingga membuka peluang kenaikan harga dalam jangka pendek.
Analis Dupoin Futures, Geraldo Kofit, menjelaskan bahwa pada timeframe H4, harga emas telah membentuk area support yang cukup kuat. Kondisi tersebut menunjukkan tekanan jual mulai berkurang, sementara minat beli kembali meningkat secara bertahap.
“Struktur harga saat ini mulai mengarah ke tren yang lebih positif. Selama area support tetap terjaga, peluang kenaikan masih cukup terbuka,” ujar Geraldo dalam analisisnya, Senin, 29 Juni 2026.
Selain terbentuknya area support, harga emas juga membentuk pola valid swing low. Dalam analisis teknikal, pola tersebut kerap menjadi sinyal awal berlanjutnya tren kenaikan karena menunjukkan pembeli mulai mengambil alih kendali pasar dan mampu mempertahankan harga di atas level terendah sebelumnya.
Dupoin Futures memproyeksikan target kenaikan terdekat berada di level USD4.095 per troy ons. Apabila harga mampu menembus level tersebut dengan dukungan volume beli yang kuat, penguatan diperkirakan dapat berlanjut menuju area resistance berikutnya di kisaran USD4.144 per troy ons.
Dari sisi indikator teknikal, Stochastic memang telah memasuki area overbought atau jenuh beli. Namun hingga saat ini belum muncul sinyal pelemahan maupun pembalikan arah yang signifikan.
Menurut Geraldo, kondisi tersebut mengindikasikan momentum bullish masih cukup solid dalam jangka pendek. Kendati demikian, investor tetap disarankan mencermati pergerakan harga saat mendekati area resistance karena potensi aksi ambil untung dapat memicu koreksi sementara.
Selain faktor teknikal, prospek kenaikan harga emas juga ditopang oleh sejumlah sentimen fundamental global. Ketidakpastian ekonomi dunia yang dipicu perlambatan pertumbuhan, meningkatnya ketegangan geopolitik, serta tingginya volatilitas pasar keuangan masih mendorong investor memburu aset safe haven seperti emas.
Geraldo menambahkan bahwa potensi pelemahan dolar Amerika Serikat juga dapat menjadi katalis positif bagi harga emas. Saat dolar melemah, logam mulia menjadi lebih menarik bagi investor global karena relatif lebih murah bagi pemegang mata uang lainnya.
Di sisi lain, pasar mulai mencermati peluang perubahan arah kebijakan moneter Federal Reserve. Meningkatnya ekspektasi pelonggaran suku bunga berpotensi mengurangi tekanan terhadap dolar AS dan memberikan ruang bagi harga emas untuk melanjutkan penguatan.
Penurunan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury Yield) juga dinilai menjadi faktor pendukung karena menurunkan opportunity cost kepemilikan emas.
Pelaku pasar kini menantikan sejumlah data ekonomi Amerika Serikat, termasuk inflasi, kondisi pasar tenaga kerja, dan aktivitas bisnis. Data tersebut diperkirakan akan menjadi acuan bagi arah kebijakan Federal Reserve sekaligus memengaruhi pergerakan dolar AS dan harga emas dalam waktu dekat.
Secara keseluruhan, Dupoin Futures menilai prospek harga emas masih cenderung positif. Kombinasi dukungan teknikal yang solid dan sentimen fundamental global diperkirakan mampu menjaga momentum penguatan harga emas dalam jangka pendek.
