Harga Bitcoin kembali mengalami tekanan tajam pada perdagangan Rabu waktu setempat setelah turun ke bawah level USD75 ribu. Pelemahan mata uang kripto terbesar di dunia itu dipicu ketidakpastian negosiasi perdamaian antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, serta aksi jual besar-besaran pada dana yang diperdagangkan di bursa (ETF) berbasis kripto.
Mengutip Investing.com, Kamis (28/5/2026), Bitcoin terakhir tercatat turun 1,9 persen ke level USD74.274,8. Penurunan ini memperpanjang tren pelemahan pasar kripto di tengah meningkatnya kekhawatiran investor terhadap kondisi geopolitik global dan arus keluar dana institusional.
Sentimen pasar sebelumnya sempat membaik setelah sejumlah media Iran melaporkan bahwa Teheran telah menerima draf awal nota kesepahaman (MoU) dengan AS untuk mengakhiri konflik kedua negara. Dalam rancangan tersebut, Iran disebut akan memulihkan pelayaran komersial melalui Selat Hormuz ke tingkat normal dalam satu bulan, sementara AS berencana mencabut blokade angkatan laut dan menarik pasukan militer dari sekitar wilayah Iran.
Namun, Gedung Putih membantah laporan tersebut. Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengklaim nota kesepahaman dengan Iran telah “sebagian besar dinegosiasikan” usai melakukan pembicaraan dengan para pemimpin regional.
Harapan tercapainya perdamaian kembali memudar setelah militer AS mengonfirmasi telah melakukan serangan defensif terhadap Iran, yang kemudian dibalas oleh Teheran. Meski demikian, laporan Al Jazeera menyebut negosiasi tidak langsung antara kedua negara masih terus berlangsung.
“Mereka sangat ingin mencapai kesepakatan. Sejauh ini mereka belum berhasil. Jika bukan kesepakatan yang hebat, kami tidak akan membuatnya,” ujar Trump dalam rapat kabinet.
Selain faktor geopolitik, pasar kripto juga mendapat tekanan dari aksi jual institusional. Laporan terbaru menunjukkan adanya penjualan besar senilai USD1,3 miliar di ETF iShares Bitcoin Trust (IBIT) milik BlackRock melalui mekanisme dark pool trading.
ETF Bitcoin spot di AS tercatat mengalami arus keluar dana sebesar USD1,74 miliar dalam dua pekan terakhir. Transaksi dark pool IBIT senilai USD1,29 miliar pada Selasa disebut bertepatan dengan penurunan harga Bitcoin dari mendekati USD78 ribu menjadi di bawah USD76 ribu dalam perdagangan intraday.
Meski demikian, total nilai aset bersih ETF Bitcoin secara keseluruhan masih mencapai USD98,4 miliar atau setara sekitar 6,5 persen dari kapitalisasi pasar Bitcoin global. Kondisi ini menunjukkan investor institusional masih mempertahankan eksposur jangka panjang terhadap aset kripto meski terjadi koreksi dalam jangka pendek.
Pelemahan pasar kripto kali ini juga bertolak belakang dengan kinerja pasar saham AS. Tiga indeks utama Wall Street justru ditutup pada rekor tertinggi baru pada perdagangan Rabu.
Pelaku pasar kini menantikan rilis data indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) AS yang menjadi indikator inflasi favorit Federal Reserve. Data tersebut diperkirakan akan memengaruhi arah kebijakan suku bunga bank sentral AS ke depan.
Suku bunga yang tetap tinggi dinilai dapat menekan aset berisiko seperti kripto karena mengurangi likuiditas dan meningkatkan daya tarik instrumen investasi yang lebih aman.
Sementara itu, mayoritas altcoin turut melemah mengikuti pergerakan Bitcoin. Ethereum turun 2,2 persen menjadi USD2.022,83, XRP melemah 1,3 persen ke USD1,3111, Solana turun 1,3 persen, dan Cardano terkoreksi 1,2 persen. Di kelompok meme coin, Dogecoin juga turun 0,4 persen.
