Nilai Tukar Rupiah Dibuka ke Rp18.115 per Dolar AS Hari Ini

Nilai Tukar Rupiah Dibuka ke Rp18.115 per Dolar AS Hari Ini

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melemah pada pembukaan perdagangan Selasa, 14 Juli 2026. Pelemahan mata uang Garuda dipicu oleh penguatan dolar AS yang masih didukung ekspektasi suku bunga tinggi Federal Reserve (The Fed), di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka di level Rp18.115 per dolar AS, atau melemah enam poin setara 0,03 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya. Sementara itu, data Yahoo Finance menunjukkan rupiah berada di posisi Rp18.126 per dolar AS, lebih lemah dibandingkan pembukaan perdagangan sehari sebelumnya yang berada di level Rp18.064 per dolar AS.

Rupiah Diproyeksikan Bergerak Fluktuatif

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memperkirakan pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini masih akan fluktuatif dengan kecenderungan melemah. Ia memproyeksikan nilai tukar rupiah bergerak di kisaran Rp18.100 hingga Rp18.150 per dolar AS.

Menurut Ibrahim, tekanan terhadap rupiah berasal dari meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran yang memicu kekhawatiran pasar terhadap stabilitas jalur distribusi energi global, khususnya di kawasan Selat Hormuz.

Ketidakpastian tersebut berpotensi mendorong kenaikan harga energi dunia dan meningkatkan tekanan inflasi global. Kondisi ini juga memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga acuan pada level tinggi dalam jangka waktu lebih lama.

“Prospek kenaikan harga energi yang berkelanjutan telah menghidupkan kembali kekhawatiran akan guncangan inflasi lainnya, memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve mungkin harus mempertahankan suku bunga tinggi untuk waktu yang lebih lama,” ujar Ibrahim.

Risalah The Fed Perkuat Dolar AS

Selain faktor geopolitik, pasar juga mencermati risalah rapat Federal Reserve bulan Juni yang dirilis pekan lalu. Dokumen tersebut menunjukkan sejumlah pejabat bank sentral AS masih membuka peluang untuk menaikkan suku bunga apabila tekanan inflasi belum mereda.

Menurut Ibrahim, pandangan tersebut menjadi sentimen positif bagi dolar AS sekaligus memberikan tekanan tambahan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

“Risalah dari pertemuan Fed bulan Juni menunjukkan beberapa pembuat kebijakan percaya ada alasan untuk menaikkan suku bunga, sementara para pejabat secara umum menyatakan kekhawatiran yang lebih besar atas tekanan inflasi meski kekhawatiran terhadap pasar tenaga kerja mulai mereda,” jelasnya.

Pelaku pasar kini juga menantikan sejumlah data ekonomi penting, termasuk data inflasi yang diperkirakan akan menjadi penentu arah kebijakan moneter Federal Reserve dalam beberapa bulan ke depan.