Harga Bitcoin kembali turun di bawah level psikologis USD60 ribu pada perdagangan Minggu waktu setempat. Pelemahan dipicu kombinasi arus keluar dana dari exchange traded fund (ETF) spot Bitcoin, penguatan dolar Amerika Serikat (AS), serta meningkatnya ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat dari Federal Reserve.
Mengacu pada data Investing.com, Senin, 29 Juni 2026, Bitcoin melemah 1,46 persen ke level USD59.919 setelah sebelumnya mampu bertahan di atas USD60 ribu pada akhir pekan.
Dengan pelemahan tersebut, aset kripto terbesar di dunia itu berada di jalur mencatatkan kerugian kuartalan untuk kedua kalinya secara berturut-turut. Jika tren ini berlanjut, 2026 akan menjadi kali ketiga Bitcoin mengawali tahun dengan dua kuartal negatif secara beruntun.
Arus Keluar ETF Masih Membebani Pasar
Tekanan terhadap harga Bitcoin masih berasal dari melemahnya permintaan investor institusional. ETF spot Bitcoin di Amerika Serikat mencatat arus keluar bersih selama tujuh hari perdagangan berturut-turut.
Pada Jumat, 27 Juni 2026, dana yang keluar dari ETF Bitcoin mencapai sekitar USD445 juta. Secara bulanan, total arus keluar telah mencapai sekitar USD4,06 miliar sehingga total aset kelolaan ETF turun menjadi sekitar USD72,8 miliar.
Tekanan dari investor institusional tersebut menjadi salah satu faktor utama yang membebani pergerakan harga Bitcoin dalam jangka pendek.
Di tengah koreksi harga, data on-chain justru menunjukkan peningkatan aktivitas pembelian oleh investor besar atau whale. Volume transaksi bernilai antara USD100 ribu hingga USD1 juta meningkat setelah Bitcoin sempat bergerak di bawah USD60 ribu.
Kondisi tersebut mengindikasikan adanya aksi akumulasi oleh investor besar saat harga mengalami penurunan.
Sementara itu, pemegang Bitcoin jangka panjang mulai merealisasikan kerugian setelah tekanan harga berlangsung selama beberapa pekan. Analis menilai kondisi tersebut berpotensi mengurangi tekanan jual ke depan karena pasokan Bitcoin yang masih berada dalam posisi untung semakin berkurang.
Kebijakan The Fed Masih Jadi Faktor Utama
Dari sisi makroekonomi, perhatian pasar masih tertuju pada arah kebijakan Federal Reserve. Pelaku pasar kini memperkirakan masih terdapat peluang tambahan kenaikan suku bunga di bawah kepemimpinan Ketua The Fed, Kevin Warsh.
Komitmen bank sentral Amerika Serikat untuk menjaga stabilitas harga kembali ditegaskan pada Kamis, 26 Juni 2026. Prospek suku bunga yang lebih tinggi memperkuat dolar AS sekaligus meningkatkan tekanan terhadap aset berisiko, termasuk mata uang kripto.
Selain Bitcoin, aset lindung nilai seperti emas dan perak juga mengalami pelemahan akibat penguatan dolar AS. Ketiga aset tersebut terdampak berakhirnya strategi currency debasement trade, yaitu strategi investasi yang sebelumnya mengandalkan pelemahan nilai mata uang untuk mendorong kenaikan harga aset langka.
Grayscale Investments menilai arah pergerakan Bitcoin selanjutnya akan dipengaruhi sejumlah katalis utama, mulai dari keputusan kebijakan Federal Reserve, perkembangan pembahasan RUU Clarity di Senat Amerika Serikat, hingga kondisi neraca perusahaan Strategy yang menjadi perhatian pasar terkait strategi akumulasi Bitcoin berbasis leverage.
Meski masih berada dalam fase koreksi, Grayscale menilai fundamental jangka panjang aset digital tetap solid. Optimisme tersebut ditopang oleh meningkatnya adopsi institusional, pertumbuhan penggunaan stablecoin, serta berkembangnya tokenisasi aset dunia nyata.
Pergerakan Aset Kripto Lainnya
Mayoritas aset kripto juga diperdagangkan di zona merah pada perdagangan Minggu.
- Ethereum turun 0,12 persen ke level USD1.582,32.
- XRP bergerak stabil di level USD1,0569.
- BNB melemah 1,29 persen menjadi USD558,40.
- Solana menguat 0,14 persen.
- Cardano turun 0,73 persen.
- Dogecoin melemah 1,84 persen.
- Token meme Official Trump terkoreksi 2,73 persen.
