Harga Bitcoin (BTC) mengalami tekanan pada perdagangan Minggu, 12 April 2026. Aset kripto terbesar di dunia ini tercatat turun 1,80 persen ke level USD71.603,9 seiring meningkatnya ketidakpastian geopolitik global.
Tekanan terhadap Bitcoin dipicu oleh kegagalan perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran yang berlangsung di Islamabad. KTT yang berlangsung selama 21 jam tersebut berakhir tanpa kesepakatan, memicu kekhawatiran baru di pasar global, khususnya terkait stabilitas kawasan Teluk Persia.
Kondisi ini turut mendorong kenaikan harga energi konvensional. Namun demikian, Bitcoin menunjukkan ketahanan dengan tetap bertahan di atas level support teknis penting. Investor mulai kembali melihat Bitcoin sebagai lindung nilai digital di tengah potensi eskalasi konflik geopolitik.
Kebuntuan diplomatik semakin terlihat setelah Wakil Presiden AS, JD Vance, meninggalkan Pakistan tanpa membawa komitmen nuklir dari Iran. Situasi ini menurunkan harapan akan tercapainya kesepakatan dalam waktu dekat dan meningkatkan ketidakpastian pasar energi global.
Secara historis, ketegangan geopolitik sering kali menjadi katalis positif bagi Bitcoin. Hal ini disebabkan sifatnya yang terdesentralisasi dan tidak terpengaruh oleh kebijakan sanksi atau hambatan perdagangan antarnegara. Bahkan, analis mencatat adanya pergeseran “premi perang” ke aset digital di tengah rapuhnya gencatan senjata yang terjadi sejak awal April.
Pernyataan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang menegaskan bahwa tercapai atau tidaknya kesepakatan bukan menjadi prioritas, turut memperkuat sentimen bahwa konflik berpotensi berlanjut.
Meski demikian, data pasar menunjukkan tidak adanya aksi jual besar-besaran pada Bitcoin. Hal ini mengindikasikan bahwa sebagian besar risiko geopolitik telah diantisipasi oleh investor sejak awal Maret 2026.
Dari sisi fundamental, Bitcoin juga mendapat dukungan dari meningkatnya minat institusional. Data terbaru menunjukkan adanya lonjakan arus masuk dana ke ETF Bitcoin spot. Investor skala besar memanfaatkan momentum ketidakpastian global untuk mengakumulasi aset, menciptakan apa yang disebut sebagai “batas bawah institusional” yang membantu menahan penurunan harga.
Selain itu, perkembangan regulasi di kawasan Asia juga memberikan sentimen positif. Sejumlah pusat keuangan mulai memperkenalkan kerangka perizinan baru bagi penyedia layanan aset digital, yang mendorong masuknya modal baru ke pasar kripto.
Ke depan, pelaku pasar akan mencermati interaksi antara arus masuk institusional dan berkurangnya pasokan likuid Bitcoin di bursa. Jika ketegangan geopolitik terus berlanjut, kondisi ini berpotensi menciptakan tekanan sisi penawaran yang dapat mempengaruhi pergerakan harga.
Sementara itu, mayoritas harga kripto lainnya turut mengalami pelemahan. Ethereum (ETH) turun 1,27 persen ke USD2.215,02, diikuti XRP yang melemah 1,28 persen ke USD1,3306.
Kripto lain seperti Solana turun 2,70 persen, Cardano terkoreksi 3,95 persen, dan BNB melemah 2,06 persen ke USD594,30. Di segmen memecoin, Dogecoin turun 1,84 persen, sementara token $TRUMP terkoreksi 0,69 persen.
