Harga Emas Kembali Turun akibat Dolar AS Menguat

Harga Emas Kembali Turun akibat Dolar AS Menguat

Harga emas dunia mengalami tekanan pada perdagangan Selasa, 19 Mei 2026. Pelemahan terjadi akibat penguatan Dolar AS serta kenaikan imbal hasil obligasi global yang dipicu kekhawatiran inflasi.

Mengutip Investing.com, harga emas spot turun 1,8 persen menjadi USD4.483,39 per ons. Sementara itu, harga emas berjangka melemah 1,6 persen menjadi USD4.487,22 per ons.

Ketegangan AS-Iran Masih Membayangi Pasar

Perkembangan geopolitik di Timur Tengah masih menjadi perhatian utama pasar, terutama terkait hubungan antara Amerika Serikat dan Iran yang belum menunjukkan kemajuan berarti dalam proses diplomasi.

Donald Trump menyatakan dirinya menunda serangan terhadap Iran setelah adanya permintaan dari para pemimpin negara Teluk.

Trump mengklaim negosiasi serius sedang berlangsung dan berharap tercapai kesepakatan yang dapat diterima semua pihak, termasuk terkait larangan Iran memiliki senjata nuklir.

Meski demikian, Trump juga menegaskan militer AS tetap siap melancarkan serangan besar terhadap Iran jika kesepakatan gagal tercapai.

Media pemerintah Iran melaporkan Teheran telah mengirim proposal perdamaian kepada AS yang mencakup penghentian permusuhan di berbagai wilayah konflik serta tuntutan ganti rugi atas kerusakan akibat perang.

Namun, laporan Reuters menyebut proposal terbaru Iran tidak jauh berbeda dari tawaran sebelumnya yang sempat ditolak keras oleh Trump.

Kenaikan Yield Obligasi Tekan Harga Emas

Selain faktor geopolitik, harga emas juga terbebani oleh kembali meningkatnya aksi jual obligasi global.

Kenaikan harga minyak dunia memicu kekhawatiran inflasi sehingga pasar memperkirakan bank sentral global akan mempertahankan atau bahkan menaikkan suku bunga lebih tinggi.

Kondisi tersebut menyebabkan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat melonjak.

Imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun naik menjadi 4,670 persen, level tertinggi sejak Januari 2025. Sementara itu, yield obligasi AS tenor 30 tahun meningkat menjadi 5,181 persen, tertinggi sejak 2007.

Suku bunga tinggi biasanya menekan harga emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil seperti instrumen obligasi. Selain itu, penguatan dolar AS membuat emas menjadi lebih mahal bagi investor asing.

Analis Phillip Capital menilai harga emas masih tertekan karena belum adanya kepastian pembukaan kembali Selat Hormuz yang memicu kekhawatiran inflasi global.

Pasar juga tengah menanti perubahan kepemimpinan di Federal Reserve setelah Kevin Warsh dipilih menggantikan Jerome Powell sebagai ketua The Fed.