Rupiah Pagi Ini Sentuh Rp17.721 per Dolar AS

Rupiah Pagi Ini Sentuh Rp17.721 per Dolar AS

Rupiah kembali melemah terhadap Dolar AS pada pembukaan perdagangan Rabu, 20 Mei 2026. Pelemahan terjadi di tengah penguatan dolar AS dan meningkatnya sentimen negatif akibat perkembangan konflik geopolitik global.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah berada di level Rp17.721 per dolar AS. Posisi tersebut turun 15 poin atau sekitar 0,08 persen dibanding penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp17.706 per dolar AS.

Sementara itu, data Yahoo Finance mencatat rupiah berada di level Rp17.714 per dolar AS. Nilai tukar rupiah masih melemah dibanding pembukaan perdagangan sebelumnya yang berada di posisi Rp17.661 per dolar AS.

Rupiah Diproyeksi Fluktuatif Namun Masih Melemah

Analis pasar uang, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan rupiah akan bergerak fluktuatif namun cenderung ditutup melemah pada perdagangan hari ini.

Menurut Ibrahim, mata uang Garuda diperkirakan bergerak di kisaran Rp17.700 hingga Rp17.750 per dolar AS.

Ia menjelaskan tekanan terhadap rupiah masih dipengaruhi perkembangan konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang memicu ketidakpastian di pasar keuangan global.

Meski demikian, Presiden Donald Trump disebut menunda serangan lanjutan terhadap Iran untuk membuka peluang negosiasi baru.

“Trump mengatakan bahwa ada peluang yang sangat baik bagi AS untuk mencapai kesepakatan dengan Iran serta mencegah Teheran memperoleh senjata nuklir,” ujar Ibrahim.

Pelemahan Rupiah Picu Risiko Inflasi Impor

Dari sisi domestik, Ibrahim menilai pelemahan rupiah mulai menguji ketahanan harga pangan nasional. Tingginya ketergantungan terhadap impor bahan pangan dinilai dapat memicu kenaikan harga sejumlah produk konsumsi masyarakat.

Beberapa produk yang berpotensi terdampak antara lain mi instan, roti, tahu-tempe, susu, hingga berbagai makanan olahan lainnya.

“Kondisi tersebut memunculkan fenomena imported inflation atau inflasi impor, yakni tekanan inflasi yang berasal dari pelemahan nilai tukar dan tingginya ketergantungan terhadap barang impor,” ungkap Ibrahim.

Pelaku pasar saat ini juga masih mencermati arah kebijakan suku bunga Federal Reserve serta perkembangan geopolitik Timur Tengah yang terus memengaruhi pergerakan mata uang global.