Minyak Dunia Melemah, Brent Diperdagangkan di Kisaran USD76 per Barel

Minyak Dunia Melemah, Brent Diperdagangkan di Kisaran USD76 per Barel

Harga minyak dunia ditutup sedikit lebih rendah pada perdagangan Jumat waktu setempat. Meski mengalami koreksi harian, minyak mentah Brent dan West Texas Intermediate (WTI) tetap berada di jalur penguatan mingguan yang solid seiring meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang kembali memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi global.

Mengutip data Investing.com, Sabtu (11/7/2026), kontrak berjangka minyak mentah Brent untuk pengiriman September turun 0,3 persen menjadi USD76,08 per barel. Sementara itu, kontrak berjangka minyak mentah WTI pengiriman Agustus terkoreksi 0,7 persen ke level USD71,58 per barel.

Meskipun mengalami pelemahan pada akhir pekan, kedua kontrak minyak tersebut masih membukukan penguatan mingguan yang cukup signifikan. Harga Brent tercatat naik sekitar 5,7 persen sepanjang pekan, sedangkan WTI menguat sekitar 4,4 persen.

Ketegangan AS-Iran Dorong Premi Risiko Minyak

Kenaikan harga minyak sepanjang pekan dipicu meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran setelah kedua negara saling melancarkan serangan menyusul insiden terhadap kapal-kapal komersial di sekitar Selat Hormuz.

Situasi tersebut memicu kekhawatiran pasar terhadap kelancaran distribusi minyak dunia karena Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran energi paling vital di dunia.

Sebagai respons atas serangan terhadap tiga kapal tanker minyak komersial, militer Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap sekitar 170 target di Iran pada Selasa dan Rabu. Target tersebut mencakup sistem pertahanan udara, fasilitas penyimpanan rudal dan drone, serta lebih dari 60 kapal kecil milik Korps Garda Revolusi Islam.

Media pemerintah Iran kemudian melaporkan bahwa angkatan bersenjata negara tersebut membalas serangan dengan menargetkan pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.

Di tengah memanasnya situasi, Oman dan Pakistan kembali mendorong penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi guna meredakan ketegangan yang berpotensi mengganggu stabilitas pasar energi global.

Trump Sebut Peluang Negosiasi Masih Terbuka

Presiden Amerika Serikat Donald Trump turut meningkatkan tekanan terhadap Iran dengan menyatakan bahwa gencatan senjata antara kedua negara telah berakhir. Namun demikian, Trump juga mengungkapkan bahwa Teheran telah menghubungi Washington untuk membuka kembali peluang perundingan.

Pernyataan tersebut memunculkan harapan baru bahwa jalur diplomasi masih memungkinkan untuk ditempuh, meski konflik militer belum sepenuhnya mereda.

Lalu Lintas Selat Hormuz Menurun

Ketidakpastian keamanan di kawasan turut memengaruhi aktivitas pelayaran di Selat Hormuz. Banyak perusahaan pelayaran memilih menunda perjalanan sebagai langkah antisipasi terhadap risiko keamanan.

Berdasarkan data Kpler, jumlah kapal yang dipastikan melintasi Selat Hormuz terus menurun selama dua hari berturut-turut hingga Kamis. Tercatat hanya 22 kapal yang melintas, lebih rendah dibandingkan 30 kapal pada hari sebelumnya.

Analis Pasar Senior Trade Nation David Morrison menilai perkembangan terbaru membuka peluang dimulainya kembali negosiasi damai antara kedua negara.

Menurutnya, pernyataan Presiden Trump yang mengungkapkan adanya komunikasi dari Iran cukup mengejutkan dan diperkuat oleh pernyataan pejabat Qatar serta Pakistan yang menyebut upaya menghidupkan kembali proses perdamaian tengah dilakukan.

Meski demikian, Morrison menilai lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz masih berada di bawah level normal. Ia juga menambahkan bahwa Iran telah lama berupaya memperkuat pengaruhnya terhadap jalur strategis tersebut, termasuk dengan mendorong penerapan biaya bagi kapal-kapal yang melintas sebagai bagian dari upaya menjaga keamanan kawasan.

Di sisi lain, secara teknikal harga minyak masih berpotensi melanjutkan penguatan apabila ketegangan geopolitik terus meningkat, meskipun sejumlah indikator pasar menunjukkan momentum kenaikan belum sepenuhnya kuat.