Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka melemah pada awal perdagangan Senin, 4 Mei 2026. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah berada di level Rp17.405 per dolar AS atau turun 11,5 poin setara 0,07 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.394 per dolar AS.
Sementara itu, data Yahoo Finance menunjukkan rupiah berada di posisi Rp17.363 per dolar AS, melemah dari pembukaan perdagangan sebelumnya di Rp17.345 per dolar AS. Pergerakan ini mencerminkan tekanan yang masih membayangi mata uang domestik di tengah penguatan dolar AS akibat meningkatnya permintaan terhadap aset safe haven.
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memproyeksikan rupiah akan bergerak fluktuatif namun cenderung ditutup melemah. Ia memperkirakan rupiah berada dalam rentang Rp17.390 hingga Rp17.440 per dolar AS pada perdagangan hari ini.
Menurut Ibrahim, tekanan terhadap rupiah dipengaruhi oleh sentimen eksternal, terutama meningkatnya ketegangan geopolitik global. Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan negaranya akan memulai upaya membebaskan kapal-kapal yang terdampar di Selat Hormuz, yang turut memicu kekhawatiran pasar.
Selain itu, konflik di Eropa Timur juga semakin memanas setelah Ukraina melancarkan serangan drone ke sejumlah wilayah Rusia, termasuk target infrastruktur energi. Kondisi ini mendorong investor global beralih ke aset yang dianggap lebih aman seperti dolar AS.
Dari sisi domestik, Badan Pusat Statistik mencatat neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus sebesar USD3,32 miliar pada Maret 2026, meningkat dari USD1,27 miliar pada periode sebelumnya. Surplus ini sekaligus memperpanjang tren positif menjadi 70 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.
Namun demikian, indikator manufaktur menunjukkan pelemahan. Data Purchasing Managers’ Index (PMI) yang dirilis S&P Global mencatat angka 49,1 pada April 2026, turun dan masuk ke zona kontraksi setelah sebelumnya mengalami ekspansi selama delapan bulan.
Penurunan PMI tersebut dipicu oleh melemahnya volume produksi yang telah berlangsung selama dua bulan berturut-turut, dengan laju penurunan yang semakin cepat dan menjadi yang terdalam sejak Mei tahun lalu.
