Pasar Saham Bergairah, IHSG Naik 1,88 Persen di Awal Sesi

Pasar Saham Bergairah, IHSG Naik 1,88 Persen di Awal Sesi

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan Selasa, 9 Juni 2026, dengan kinerja positif setelah mengalami tekanan cukup dalam dalam beberapa pekan terakhir. Penguatan tajam terjadi sejak awal sesi perdagangan, didorong oleh aksi beli investor yang kembali masuk ke pasar saham domestik.

Berdasarkan data RTI hingga pukul 09.45 WIB, IHSG melonjak 100,215 poin atau naik 1,88 persen ke level 5.442,352 dari posisi pembukaan di level 5.344,688.

Penguatan indeks didukung oleh mayoritas saham yang bergerak di zona hijau. Sebanyak 453 saham tercatat menguat, sementara 160 saham melemah dan 123 saham lainnya bergerak stagnan.

Aktivitas perdagangan juga terpantau cukup ramai. Hingga pukul 09.45 WIB, total nilai transaksi mencapai Rp5,616 triliun dengan volume perdagangan sebanyak 10,574 miliar saham.

IHSG Berpotensi Uji Resistance 5.500

Head of Retail Research BNI Sekuritas Fanny Suherman menilai penguatan IHSG masih berpotensi berlanjut untuk menguji area resistance penting di level 5.500.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa peluang koreksi masih terbuka apabila indeks gagal menembus level resistance tersebut, terutama jika nilai tukar rupiah terus mengalami pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat.

“Diperkirakan support IHSG di level 5.000-5.150 dan resistance IHSG pada level 5.400-5.500,” ujar Fanny dalam riset hariannya.

Sebelumnya, pada perdagangan Senin (8/6/2026), IHSG ditutup anjlok hingga 4,5 persen. Pelemahan tersebut juga diiringi aksi jual bersih (net sell) investor asing sebesar Rp587 miliar.

Beberapa saham yang paling banyak dilepas investor asing antara lain saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), dan PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN).

Wall Street Menguat, Investor Pantau Timur Tengah

Sentimen positif bagi pasar domestik turut datang dari pergerakan bursa saham Amerika Serikat. Indeks-indeks utama Wall Street mayoritas ditutup menguat pada perdagangan Senin waktu setempat.

Kenaikan dipimpin oleh saham-saham sektor semikonduktor yang mengalami rebound setelah sebelumnya terkena tekanan jual pada akhir pekan lalu.

Indeks S&P 500 tercatat naik 0,30 persen, sementara Nasdaq Composite menguat 0,86 persen. Di sisi lain, Dow Jones Industrial Average masih terkoreksi tipis sebesar 0,16 persen.

Meski demikian, investor global masih mencermati perkembangan situasi geopolitik di Timur Tengah, khususnya terkait implementasi gencatan senjata antara Iran dan Israel yang masih dibayangi ketidakpastian.

Bursa Asia Tertekan Akibat Ketegangan Geopolitik

Berbeda dengan Wall Street, mayoritas bursa saham Asia-Pasifik mengalami pelemahan tajam pada perdagangan sebelumnya. Tekanan muncul setelah laporan peluncuran rudal dari Iran ke wilayah Israel yang memunculkan kekhawatiran baru terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah.

Sentimen geopolitik tersebut semakin memperburuk kondisi pasar setelah sebelumnya investor global juga melakukan aksi jual besar-besaran pada saham teknologi di Amerika Serikat.

Korea Selatan menjadi pasar yang mengalami tekanan paling besar dengan indeks Kospi merosot hingga 8,3 persen dan Kosdaq turun lebih dari 9 persen.

Di Jepang, indeks Nikkei 225 terkoreksi 3,8 persen, sedangkan indeks Topix melemah 2,4 persen. Sementara itu, indeks Hang Seng Hong Kong turun 1,2 persen, Taiex Taiwan melemah 3,5 persen, dan CSI 300 China terkoreksi 2,1 persen.

Adapun bursa saham Australia tidak melakukan perdagangan karena memperingati hari libur nasional.

Dengan penguatan yang terjadi pada perdagangan pagi ini, pelaku pasar akan mencermati kemampuan IHSG untuk mempertahankan momentum positif sekaligus menguji area resistance di kisaran 5.500. Pergerakan rupiah, arus dana asing, dan perkembangan geopolitik global masih menjadi faktor utama yang akan memengaruhi arah indeks dalam jangka pendek.