Tren Bearish Diprediksi Masih Bayangi Harga Emas Pekan Ini

Tren Bearish Diprediksi Masih Bayangi Harga Emas Pekan Ini

Harga emas dunia diperkirakan masih berada dalam tekanan sepanjang pekan ini seiring dominasi sentimen bearish yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda, baik dari sisi teknikal maupun fundamental.

Analis Dupoin Futures Geraldo Kofit menjelaskan, pergerakan XAU/USD pada timeframe H4 masih menunjukkan tren penurunan yang cukup kuat dengan potensi pelemahan lanjutan selama harga belum mampu menembus area resistance utama.

Secara teknikal, struktur harga emas saat ini membentuk pola lower high dan lower low yang menjadi indikasi klasik tren bearish masih solid. Kondisi tersebut menunjukkan setiap upaya kenaikan harga masih cenderung tertahan dan kembali diikuti tekanan jual.

“Selain itu, posisi harga yang masih berada di bawah indikator Moving Average (MA) 21 dan 50 semakin memperkuat tekanan bearish, mengingat kedua indikator tersebut saat ini berfungsi sebagai dynamic resistance yang membatasi ruang kenaikan,” ujar Geraldo dalam keterangan tertulis, Jumat, 22 Mei 2026.

y=f(x)y=f(x)y=f(x)

Dalam proyeksi pekan ini, area resistance terdekat berada di level USD4.589 sebagai resistance pertama dan USD4.639 sebagai resistance kedua. Selama harga bergerak di bawah area tersebut, peluang pelemahan lanjutan dinilai masih cukup besar.

Sementara itu, area support terdekat berada di level USD4.462 sebagai support pertama dan USD4.379 sebagai support kedua. Kedua level tersebut diperkirakan menjadi target penurunan berikutnya apabila tekanan jual kembali meningkat dalam beberapa hari ke depan.

Dari sisi fundamental, tekanan terhadap harga emas masih dipengaruhi penguatan dolar Amerika Serikat dan tingginya imbal hasil obligasi pemerintah AS. Kondisi ini membuat investor lebih memilih aset berbasis dolar yang dianggap memberikan imbal hasil lebih menarik dibandingkan emas yang tidak menghasilkan bunga.

“Kuatnya dolar juga secara langsung menekan harga emas, mengingat keduanya memiliki hubungan yang cenderung berlawanan,” kata Geraldo.

Selain itu, ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter Federal Reserve juga menjadi faktor utama yang membebani harga emas. Pelaku pasar memperkirakan bank sentral AS akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama apabila data ekonomi AS, terutama sektor tenaga kerja dan inflasi, masih menunjukkan penguatan.

Menurut Geraldo, lingkungan suku bunga tinggi membuat daya tarik emas sebagai instrumen investasi menjadi berkurang. Di sisi lain, sentimen pasar global yang relatif stabil turut menekan permintaan emas sebagai aset safe haven.

Dalam situasi pasar yang lebih optimistis terhadap pertumbuhan ekonomi global, aliran dana investor cenderung bergerak ke aset berisiko seperti saham maupun instrumen berbasis dolar AS.

“Hal ini berdampak pada melemahnya permintaan emas, yang pada akhirnya menekan harga lebih lanjut,” jelasnya.

Dengan kombinasi tekanan teknikal dan fundamental yang masih kuat, harga emas dunia diperkirakan bergerak dalam bias bearish dalam jangka pendek hingga menengah. Investor disarankan tetap mencermati perkembangan data ekonomi Amerika Serikat serta arah kebijakan moneter global yang berpotensi menjadi katalis utama pergerakan harga emas selanjutnya.